PENGOPTIMALAN PROGRAM LITERASI DAN PENATAAN PERPUSTAKAAN MTs
Moh. Dwi
Kurniyawan, Alfin Nur Indah Sari, Maulidia Rahmawati, Renny Oktavia
Suryaningseh, Sukma Puri Bektiyastri, Vina Lailaitun Nisfa, Ahmad Supriyanto,
Farid Wadjdi Sjaifullah, Nur Asiyah Latifui
Universitas
Negeri Malang, Jalan
Semarang 5 Malang
Email: moh.dwiku@gmail.com
Abstrak: Artikel
penelitian ini bertujuan agar perpustakaan di MTs Sunan Kalijogo lebih baik
dalam pengelolaannya, lebih terawat, dan mengembangkan budaya literasi di sekolah.
Penelitian
ini menggunakan rancangan penelitian pengembangan dengan subjek penelitian
peserta didik dan pustakawan dengan alternatif model proses pengembangannya
menggunakan Waterfall Model. Hasil penelitian pengembangan ini
yaitu buku di perpustakaan sudah tertata rapi sesuai dengan kumpulan mata
pelajaran, kelas, dan semester serta diadakannya gerakan literasi bagi peserta
didik. Perpustakaan sekolah bukan hanya sekedar tempat penyimpanan bahan
pustaka, tetapi terdapat upaya untuk mendayagunakan agar koleksi-koleksi yang
ada dimanfaatkan secara maksimal.
Kata
Kunci: perpustakaan, pengoptimalan,penataan, literasi
Abstract:
This
research article aims to make the library at MTs Sunan Kalijogo better in its
management, better maintained, and develop a culture of literacy in schools.
This study uses a development research design with research subjects of
students and librarians with an alternative model of the development process
using the Waterfall Model. The results of this development study are, books in
the library are neatly arranged in accordance with a collection of subjects,
classes, and semesters and holding a literacy movement for students. The school
library is not just a place to store library materials, but there are efforts
to utilize it so that the existing collections are maximally utilized.
Keywords:
library,
optimization,arrangement, literacy
Menurut Undang-undang Republik Indonesia Nomor
43 Tahun 2007 Tentang Perpustakaan Pasal 1 menjelaskan bahwa perpustakaan
adalah institusi pengelola koleksi karya tulis, karya cetak, dan/atau karya
rekam secara profesional dengan sistem yang baku guna memenuhi kebutuhan
pendidikan, penelitian, pelestarian, informasi, dan rekreasi para pemustaka. Menurut
Supriyanto dan Muhsin (2008: 144) mengungkapkan bahwa perpustakaan merupakan
lembaga pendidikan non formal,sumber pengetahuan, rekreasi, informasi, pusat
informasi, teknologi, dan pelestarian budaya bangsa. Perpustakaan sekolah
merupakan sarana belajar bagi peserta didik di sekolah, yang dikelola oleh
pihak sekolah, penelitian sederhana penunjang pembelajaran, serta tempat
penyedia layanan baca dan tempat rekreasi bagi warga sekolah (Riadi, 2012).
Perpustakaan sekolah sangat penting bagi guru
dan peserta didik karena menyediakan buku-buku dan koleksi yang lengkap dalam
hubungannya dengan keperluan peningkatan belajar dan mengajar. Bagi peserta didik, perpustakaan sangat penting
karena dapat membantu peserta
didik secara aktif dalam mencari apa-apa yang harus dipelajarinya. Menurut
Prastowo, (2018:154) perpustakaan sekolah berguna untuk menunjang tercapainya
target kurikulum, karena perpustakaan sekolah diperuntukkan agar proses belajar
mengajar lebih bersifat aktif dan dinamis. Keaktifan
peserta didik dalam menggunakan perpustakaan ini, selain dapat memberikan
kemungkinan perkembangan jiwa dan bakatnya, juga sangat membantu guru dalam
mengajarkan pelajaran secara mudah dan cepat. Menurut Rahmah, 2018:198)
penataan lingkungan perpustakaan mencakup penataan interior dan eksterior,
termasuk di dalamnya fasilitas yang digunakan untuk menciptakan suasana yang
kondusif, sehingga pemustaka yang datang ke perpustakaan merasa senang, tenang
dan nyaman. Berdasarkan
hal tersebut maka pengembangan perpustakaan sekolah kaitannya dengan sarana dan
prasarana perpustakaan MTs Sunan Kalijogo yang kurang memenuhi standar agar
perpustakaan dapat digunakan lebih maksimal.
Literasi adalah kualitas
melek huruf seseorang dalam membaca dan menulis. Melek huruf disini berarti
kemampuan seseorang memahami atau mengenali ide-ide yang penyampaiannya secara
visual, misalnya gambar, video, atau adegan. Menurut Malawi, Tryanasari, &
Kartikasari (2017: 9), inti dari literasi yaitu berhubungan dengan bahasa lisan
maupun tulis yang digunakan secara personal, sosial, maupun komunal. Sistem
bahasa lisan bersifat primer, sedangkan sistem bahasa tulis bersifat
sekunder. Literasi memerlukan kemampuan
kognitif, bahasa tulis dan lisan, serta pengetahuan kultural dalam menciptakan
makna melalui teks. Kegiatan literasi ini
dilaksanakan untuk menumbuhkan minat dan budaya membaca siswa. (Ditjen
Dikdasmen dalam Aprilia, 2017:9) menyatakan bahwa kegiatan literasi
dilaksanakan untuk meningkatkan keterampilan membaca agar pengetahuan dapat
dikuasai secara lebih baik.
METODE
Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian
pengembangan dengan subjek penelitian peserta didik dan pustakawan dengan
alternatif model proses pengembangannya menggunakan Waterfall Model. Berdasarkan dari
masalah-masalah yang telah dipaparkan, kelompok kami memilih fokus masalah yang
akan kelompok kami perbaiki yaitu dengan pengoptimalan program
literasi dan penataan perpustakaan di MTs Sunan Kalijogo. Kelompok kami akan melakukan perbaikan dengan
menata ulang buku-buku yang ada di perpustakaan, membuat kartu peminjaman dan
pengembalian buku, membelikan meja baca bagi pengunjung, menyampuli buku,
menyingkirkan barang-barang yang sudah tak terpakai dengan menatanya agar
terlihat rapi dan tidak berantakan serta mengoptimalkan program literasi yang
ada di sekolah.
HASIL
Perpustakaan MTs Sunan Kalijogo termasuk
perpustakaan yang masih belum sesuai dengan standar nasional pendidikan. Dimana
kondisi perpustakaan saat ini yang memiliki luas bangunan masih minim serta
jumlah buku yang terbatas. Tidak hanya itu, perpustakaan disini juga digunakan
sebagai tempat penyimpanan barang-barang sekolah dan hasil dari karya peserta
didik. Hal ini mengakibatkan perpustakaan semakin sempit dan tidak nyaman bagi
pengunjung perpustakaan. Selain itu, fungsi perpustakaan juga disalahgunakan
oleh peserta didik. Perpustakaan yang berfungsi sebagai tempat peserta didik
menambah wawasan, justru digunakan peserta didik sebagai tempat “nongkrong”
saat jam kosong dan saat istirahat.
Penataan buku yang ada di perpustakaan MTs
Sunan Kalijogo juga belum tertata dengan baik. Misalnya di rak buku tertulis
mata pelajaran matematika, tetapi yang ada justru buku ilmu pengetahuan alam
(IPA), dan juga masih banyak rak yang belum terdapat keterangan tulisan mata
pelajaran. Kartu peminjaman dan pengembalian buku di perpustakaan MTs Sunan
Kalijogo juga tidak di gunakan dengan baik. Peserta didik yang meminjam dan
mengembalikan tidak mengisi baik buku pengunjung ataupun buku peminjaman dan
pengembalian buku. Dan langsung mengambil buku terkadang juga tanpa
sepengetahuan tenaga pustakawan. Saat mengembalikan buku, peserta didik tidak
mengembalikan buku pada tempat asalnya. Tetapi langsung menaruh buku sesuka
hati peserta didik dan tidak ditata dengan rapi.
Kondisi perpustakaan di MTs Sunan Kalijogo
tidak ada bangku untuk membaca (lesehan). Hal ini menyebabkan peserta didik
merasa kesulitan saat menulis, karena meja baca yang ada sudah rusak dan tidak
layak untuk dipakai. Kebersihan di perpustakaan MTs Sunan Kalijogo juga masih
kurang terjaga. Karena masih banyak peserta didik yang masuk ke dalam
perpustakaan membawa makanan dan meninggalkan bungkus makanannya di dalam
perpustakaan.
Setelah melakukan implementasi, semula barang-barang sekolah dan hasil dari
karya peserta didik di atas rak buku sangat berantakan. Kelompok kami
memisahkan barang-barang yang sudah tidak terpakai untuk diletakkan di satu
kardus besar, begitu juga dengan barang-barang yang masih bisa dipakai
diletakkan menjadi satu di kardus besar dan diberi keterangan, misal karya
peserta didik, pajangan, dan lain-lain.
Penataan buku sudah tertata rapi dan sudah
sesuai dengan kumpulan mata pelajaran, kelas, dan semester. Keterangan tulisan
tata letak mata pelajaran sudah lengkap dengan dibuatkan tulisan mata pelajaran
di sebuah kertas HVS ukuran 20x3 cm, kemudian dilaminating agar tahan lama. Untuk
tempat pengembalian buku sudah kami siapkan dan diberi petunjuk untuk
meletakkan buku yang sudah dibaca pada tempat yang sudah disediakan. Melarang
peserta didik yang masuk dengan membawa makanan atau minuman ke dalam
perpustakaan. Untuk kartu peminjaman dan pengembalian buku perpustakaan sudah
ada untuk masing-masing siswa sejumlah 120 siswa. Jadi dalam hal ini,
diharapkan setiap peserta didik yang meminjam dan mengembalikan buku menulis di
kartu tersebut, agar tenaga pustakawan tidak kesulitan dalam mengontrol bahan
pustaka yang ada.
Untuk kenyamanan peserta didik dalam membaca
atau belajar di perpustakaan sudah disiapkan meja baca. Harapan kelompok agar
peserta didik lebih sering mengunjungi perpustakaan untuk membaca buku
pelajaran atau buku bacaan umum yang bisa menunjang wawasan peserta didik.
Selain itu dengan penataan yang rapi, diharapkan peserta didik tidak bingung
lagi dalam mencari buku-buku refrensi dalam menunjang keberlangsungan kegiatan
belajar mengajar. Hasil dari implementasi kelompok kami selain dari segi
penataan yaitu, diadakannya gerakan literasi bagi seluruh peserta didik MTs
Sunan Kalijogo setiap satu minggu sekali di hari Sabtu. Kegiatan literasi
diadakan guna untuk mengoptimalkan fungsi dari perpustakaan sendiri. Selain itu
gerakan literasi juga diadakan agar peserta didik dapat menambah pengetahuan
serta wawasannya dengan membaca buku, baik buku pelajaran maupun non pelajaran.
Dalam gerakan literasi ini, peserta didik bebas memilih buku apapun yang mereka
suka. Setelah semua peserta didik mendapatkan buku masing-masing, peserta didik
langsung berkumpul di aula untuk melanjutkan kegiatan selanjutnya yaitu membaca
buku yang telah dipilih secara bersama-sama. Kegiatan membaca diberikan batasan
untuk waktunya. Jika waktu sudah habis, peserta didik di tunjuk untuk
menyampaikan kesimpulan singkat mengenai isi dari buku yang telah dibaca.
Gerakan literasi ini dilaksanakan agar peserta didik juga terbiasa untuk
membudayakan gemar membaca.
Gerakan literasi sekolah ini bersifat wajib
bagi semua peserta didik. Untuk mengontrol kegiatan ini, disediakan presensi
peserta didik agar dapat membangun peserta didik yang gemar membaca dan untuk
menambah wawasan peserta didik agar mampu membudayakan gemar membaca. Setelah
melakukan uji coba, gerakan literasi ini mampu memberikan dampak yang baik bagi
sekolah, diantaranya seluruh peserta didik telah mampu mengikuti kegiatan literasi
dengan baik. Terbukti dengan adanya presensi peserta didik yang semuanya ikut,
dan guru juga tetap mengontrol dan membina kegiatan ini dari awal sampai
kegiatan selesai.
PEMBAHASAN
Menurut Undang-Undang
RI No. 43 Tahun 2007 tentang Perpustakaan Bab III pasal 11, menjelaskan bahwa sudah ada Standar Nasional Perpustakaan (SNPerp) untuk acuan
penyelenggaraan, pengelolaan, dan pengembangan perpustakaan. Standar nasional
perpustakaan itu terdiri dari: koleksi perpustakaan, sarana dan prasarana,
pelayanan perpustakaan, tenaga perpustakaan, penyelenggaraan, dan pengelolaan.
Menurut
hasil yang kelompok kami dapat yaitu koleksi perpustakaan yang sudah cukup
memadai untuk sebuah perpustakaan MTs, untuk sarana dan prasarana masih belum
memadai dari segi luas dan ruangan yang digabung dengan gudang, dari segi
pelayanan tenaga perpustakaan di MTs yang kami observasi pelayanan yang ada belum
maksimal karena tidak adanya tenaga pustakawan yang menetap, dan tenaga
pustakawan yang ada merangkap menjadi guru sehingga perpustakaan hanya dibuka
pada saat tenaga pustakawan tersebut tidak mengajar di kelas.
Jadi dari teori yang ada dan hasil yang di dapat
dari observasi yaitu perpustakaan MTs Sunan Kalijogo belum memenuhi standar
oleh karena itu kelompok kami membantu sekolah untuk mengoptimalkan penataan
perpustakaan.
Definisi literasi secara luas
diartikan sebagai kemampuan berbahasa yang mencakup kemampuan menyimak,
berbicara, membaca, dan menulis, serta kemampuan berpikir yang menjadi elemen
didalamnya. Literasi juga diartikan melek huruf, kemampuan baca tulis,
kemelekwacanaan atau kecakapan dalam membaca dan menulis (Kusmana, 2016 dalam
Padmadewi & Artini, 2018:1) Budaya literasi dimaksudkan sebagai kegiatan
melakukan kebiasaan berfikir yang diikuti oleh sebuah proses membaca, menulis
yang pada akhirnya apa yang dilakukan dalam sebuah proses kegiatan tersebut
akan menciptakan karya (Haryanti, 2014 dalam Padmadewi & Artini, 2018:2).
Menurut hasil yang kelompok kami dapat di perpustakaan MTs Sunan
Kalijogo sudah mempunyai program literasi namun jadwalnya tidak teratur, maka
dari itu kami mengoptimalkan program literasi satu bulan empat kali. Literasi
dimulai pukul 06.45 peserta didik mengambil buku bacaan ke perpustakaan dengan
terlebih dahulu mengisi buku peminjaman yang telah disediakan, kemudian siswa
membawa buku yang telah dipinjam tersebut
ke aula dan mengisi daftar hadir yang telah kelompok kami siapkan.
Peserta didik melaksanakan literasi dengan dibimbing pustakawan, Waka Kurikulum, Waka Kesiswaan
dan Kepala Sekolah. Peserta didik membaca sekitar 10-15 menit kemudian
pustakawan memanggil peserta didik yang siap presentasi untuk mempresentasikan
hasil bacaannya di depan teman-temannya.
Selanjutnya guru atau pustakawan memberikan penguatan dan program
literai diakhiri pada pukul 07.30.
SIMPULAN
1. Perpustakaan
MTs Sunan Kalijogo termasuk perpustakaan yang masih belum sesuai dengan standar
nasional pendidikan. Dimana kondisi perpustakaan saat ini yang memiliki luas
bangunan masih minim serta jumlah buku yang terbatas. Tidak hanya itu,
perpustakaan disini juga digunakan sebagai tempat penyimpanan barang-barang
sekolah dan hasil dari karya peserta didik. Hal ini mengakibatkan perpustakaan
semakin sempit dan tidak nyaman bagi pengunjung perpustakaan.
2. Metode pengembangan penelitian yang
dilakukan di MTs Sunan Kalijogo menggunakan model waterfall. Model ini melakukan pendekatan secara sistematis dan berurutan. Disebut
waterfall karena tahap demi tahap yang dilalui dalam model ini harus menunggu
selesainya tahap yang sebelumnya, jadi harus berurutan. Proses
pengembangan sistem manajemen pendidikan di MTs Sunan Kalijogo kelompok kami
melakukan pertama kali yaitu dengan menganalisis SWOT, yang kedua kelompok kami
melakukan uji coba pertama untuk mengetahui masalah yang ada dan perlu kelompok
kami perbaiki. Tahap ketiga melakukan implementasi. Tahap
yang keempat mengadakan tahap pengujian dimana kami menguji hasil dari
implementasi kelompok.
DAFTAR RUJUKAN
Aprilia, Imelda. 2017. Pelaksanaan Program Gerakan Literasi,
(Online), https://www.google.com/search?q=Ditjen+Dikdasmen+%282016%3A4%29+menyatakan+bahwa+kegiatan+literasi+&ie=utf-8&oe=utf-8&client=firefox-b-ab. Diakses 23 November 2018Padmadewi
& Artini. 2018. Literasi di Sekolah
dari Teori ke Praktik. Bandung: Nilacakra
Malawi, I., Tryasnasari, D., & Kartikasari, A.
2017. Pembelajaran Literasi Berbasais
Sastra Lokal. Magetan: CV. AE Media Grafika
Padmadewi & Artini. 2018. Membangun Budaya Literasi Bahasa Inggris
untuk Sekolah Dasar. Bali: Undiksha Press
Rahma, D. 2018. Pengertian Literasi, Tujuan, Manfaat, Jenis,
Prinsip, dan Contoh Gerakannya, (Online), (https://www.kata.co.id/Pengertian/Literasi/1791), diakses 14 November 2018
Rahmah, E. 2018. Akses dan Layanan Perpustakaan Teori dan
Praktik. Jakarta: Prenadamedia Group
Riadi,
M. 2012. Pengertian, Jenis, dan Tujuan
Perpustakaan, (Online), (https://www.kajianpustaka.com/2012/11/perpustakaan.html?m=1), diakses 23 November 2018.
Prastowo, A. 2018. Sumber
Belajar dan Pusat Sumber Belajar: Teori dan Aplikasinya di Sekolah/Madrasah.
Depok: Prenadamedia Group.
Supriyanto,
W. & Muhsin, A. 2008. Teknologi
Informasi Perpustakaa: Strategi Perancangan Perpustakaan Digital. Yogyakarta:
Kanisius.
Undang-undang
Republik Indonesia Nomor 43 Tahun 2007 Tentang Perpustakaan.
Widiasa,
K. 2007. Manajemen Perpustakaan Sekolah,
1 (1). (Online), (https://www.google.co.id/url?sa=t&source=web&rct=j&url=http://digilib.um.ac.id/images/gbjps/art02ktu.pdf&ved=2ahUKEwiYiOyCod_dAhVNdCsKHaCjDDsQFjACegQICRAB&usg=AOvVaw2p3EbjmOhltr-07vOQ6JFv),
diakses 29 september 2018.
Komentar
Posting Komentar