Gelegar Topeng Raksasa



Sukma Puri Bektiyastri
(Mahasiswa Administrasi Pendidikan- Fakultas Ilmu Pendidikan-Universitas Negeri Malang – sukmapuri@gmail.com)


PENDAHULUAN

              Ponorogo merupakan salah satu nama Kabupaten yang berada di daerah Provinsi Jawa Timur. Di Kabupaten ini memiliki satu kesenian yang menarik perhatian. Kesenian tersebut diberi nama REOG. Namun masyarakat Ponorogo lebih akrab memanggilnya dengan kesenian REYOG. Tak jauh berbeda memang, namun nama kesenian tersebut aslinya adalah Reyog, sedangkan nama Reog itu sendiri sebenarnya berasal dari motto atau slogan yang dibuat oleh Bupati pertama di Kabupaten Ponorogo yakni Bapak Markum Singodimedjo untuk meningkatkan kecintaan masyarakat Ponorogo kepada kesenian tersebut. Namun seiring berjalannya waktu, kesenian terebut malah lebih akrab dikenal dengan nama REOG bukanlah REYOG.

            Resik Endah Omber Girang Gumirang adalah kepanjangan dari nama  REOG yang dalam Bahasa Indonesia berarti “Bersih Indah Luas Bersuka Cita”. Kesenian legendaris ini menyimpan banyak unsur estetika di dalamnya. Topeng raksasa yang merupakat maskot utama dalam pertunjukan membuat kesenian ini dianggap menyimpan berbagai unsur magis. Hal ini dikarenakan berat topeng tersebut sekitar 50 kg dan diangkat oleh seorang pembarong menggunakan gigi.
          Kesenian Reog ini sempat vakum karena pandangan negatif warga.Karena pada saat pementasan reog ada banyak penonton yang mabuk karena minum-minum an keras dan menurut sebagian penonton dalam kesenian reog ini mengandung unsur magis yang bersifat negatif.Karena jika di logika hampir mustahil seorang pembarong mampu mengangkat barongan yang berbobot 20-50 kg hanya dengan mulut saja.

BAGIAN INTI
A.   Babad Ponorogo
Pada suatu ketika,kebetulan malam jum’at bulan purnama, Raden Katong, Selo Aji, Kyai Ageng Mirah, dan Jayadipo duduk bersama di oro-oro (tanah gersang yang luas) untuk mengadakan musyawarah. Mereka sedang merumuskan pusat kota yang akan dibangunnya. Jayadipo pun membawa mereka bertiga ke suatu tempat luas. Raden Katong melihat benda berbeda berjumlah 3 buah. Lalu dia pun menyembah ketiga benda tersebut. Ternyata ketiga benda tersebut adalah pusaka yang di titipkan oleh ayahanda Raden Katong, sang Prabu dulu pernah bersabda jika kelak ada orang yang dapat melihat pusaka ini, itulah tanda kesetiaan Sang Prabu kepada orang itu maka berikanlah pusaka itu, selain itu Sang Prabu juga bersabda bahwa dahulu Katong memang diharapkan untuk menjadi raja menggantikan Sang Prabu. Demikian titah dari Ayahanda Raden Katong, adapun ketiga benda tersebut adalah Payung Tunggul Wulung, Tombak Tunggul Naga, dan sabuk yang bernama Sabuk Cinde Puspito.
Musyawarah berlanjut untuk memberikan nama kota yang akan didirikan tersebut. Setelah mufakat dan kemauan terikat mereka memutuskan kota bernama Pramanaraga. Pramana artinya perana yaitu menyatukan sumber cahaya dari matahari, bulan, dan bumi yang berpengaruh menyinari kehidupan manusia yang digelar di alam raya. Ketiga unsur tersebut dinamakan Trimurti, bertempat dan menyatu dengan badan manusia menjadi mani. Mani laki-laki bercampur perempuan mendapat sabda dari kehendak Yang Maha Kuasa menjelma menjadi manusia. Jadi, pramana dan raga diumpamakan seperti madu dan manisnya, atau bunga dan sarinya, umpama api dan nyalanya. Sedangkan pana berarti mengerti akan segala situasi, mengerti dengan pemahaman yang sesungguhnya.
Kata Pramanaraga diatas lama kelamaan berubaha menjadi Ponorogo. Pono bermakna pandai, mengerti, yaitu sudah mengerti kepada suatu keadaan, Rogo bermakna badan. Jadi Ponorogo berati manusia yanga telah mengerti, mengetahui kepada dirinya sendiri yaitu manusia yang sudah mengetahui unggah-ungguh (sopan santun) atau manusia sudah mengerti tentang tata krama. Sekarang,kota Pramanaraga terkenal dengan sebutan Ponorogo.
B.   Kesenian dan Kebudayaan
Menurut Lisbianto (2013:23) asal usul dari reyog itu sendiri terdapat 2 versi :
1)    Versi Bantarangin
           Dalam versi menceritakan bahwa seorang raja Kerajaan Bantar Angin yang bernama Prabu Klana Sewandana berkehendak mempersunting putri Sanggalangit dari Kerajaan Daha melalui Patih Kerajaan Bantar Angin alias Bujangganong.
           Sang Putri bersedia dipersunting oleh Raja Bantar Angin namun dengan 2 syarat. Pertama,agar diciptakan suatu tontonan yang belum ada di dunia ini. Kedua, sang putri meminta hewan-hewan seisi hutan untuk mengisi Taman Sari Kerajaan Kediri, dimana salah satunya adalah seekor hewan yang terdiri dari 2 jenis hewan tetapi 1 tubuh.    Berangkatlah Prabu Klana Sewandana ke kerajaan Kediri dengan diiringi 114 pasukan berkuda yang semuanya berwajah tampan. Ia juga membawa seperangkat gamelan berupa gong, kempul, kenong, kendang, angklung dan terompet. Sepanjang perjalanan gamelan tersebut ditabuh untuk mengiringi langkah raja dan pasukan berkuda.
           Namun diperjalanan Prabu Klana Sewandana dihadang oleh Singobarong yang juga ingin mempersunting Putri Sanggalangit. Pada akhirnya pasukan Prabu Klana Sewandana memenangkan pertarungan itu berkat kesaktian senjata pusaka yang berupa Pecut (Samandiman, sebuah pusaka sakti yang mampu membelah gunung dan menguras samudra)
           Dalam pertempuran tersebut Prabu Klana Sewandana dibantu oleh Patih Klana Wijaya yang mampu berubah wujud menjadi burung merak yang selalu mengembangkan ekornya yang indah dan Singobarong berubah wujud menjadi macan. Keduanya saat bergulat tampak 2 hewan yang menjadi 1 dengan bentuk burung merak yang berkepala macan. Konon istilah Reog berasal dari kata Riyeg yang berarti kondisi yang hampir rubuh. Suara gamelan pengiring reog yang riuh diartikan seperti battu bata rubuh.
2)   Versi Demang Kutu
           Reyog sudah ada sejak zaman Ki ageng Kutu, gamelan Reyog dibunyikan untuk latihan adu kekuatan seperti bergulat, adu kekuatan kaki, pukul-pukulan, lempar-lemparan, bacokan, dan sebagainya.
           Di masa Raden Katong kesenian ini disempurnakan. Kepala Singa ditambah dengan bulu merak yang ditata seperti merak ngigel. Sedangkan burung meraknya mematuk kalung mote. Maknanya, singa ini ibarat Ki Ageng Demang Suryangalam yang bernama Budha yang dikalahkan oleh Raden Katong. Merak mengibaratkan Radeng Katong sendiri. Sementara kalung mote yang dipatuk melambangkan tasbih.

C.  KESENIAN REOG SEBAGAI DAYA TARIK WISATA
Sebagai kesenian yang mempunyai ciri khas, reog juga menarik perhatian wisatawan, baik wisatawan domistik maupun internasional. Kesenian reog biasanya dipertunjukkan pada saat menyambut kedatangan tamu, memeriahkan acara dan juga untuk mengisi acara pembukaan pameran, dan untuk menyambut Hari Kemerdekaan Republik Indonesia.
Adegan yang ditampilkan dalam pertunjukan reog disesuaikan dengan tema acara yang digelar. Bisa jadi hanya beberapa adegan yang ditampilkan. Namun jathil, barongan, dan warok tetap muncul. Pertujukan reog sudah menyebar hampir ke pelosok Nusantara.
Dalam pertunjukan reog, banyak orang yang berpendapat bahwa reog mengandung banyak unsur magis di dalamnya. Namun sebenarnya tidak, keahlian dari sang penari itu di dapat karena adanya latihan yang rutin dan sama sekali tidak ada unsur magis yang mendasarinya.
Di Ponorogo, Reog sudah menjadi ikon kota. Hampir semua desa wajib memiliki 1 organisasi kesenian reog. Di beberapa perempatan jalan terpasang ornament reog, ada patung barongan, klana sewandana, klana wijaya, dan sebagainya.

D. NILAI KESENIAN REOG DAN KARAKTER BANGSA
Jika dilihat lebih dalam lagi, kesenian reog dapat dikaitkan dengan pembentuk karakter bangsa, yang mana karakter sebagai sistem daya juang meliputi daya dorong, daya gerak, dan gaya hidup, dan berisi tata nilai kebajikan moral manusia. Karakter yang diharapakan tumbuh adalah karakter manusia yang tangguh akan selalu menyempurnakan diri walau menghadapi banyak tekanan dan cobaan.
Nilai kebangsaan dan patriotisme dalam kesenian ini dapat direfleksikan ke arah pembangunan karakter bangsa. Fungsi ekspresi dan instrumental dalam kesenian ini mempunya peran penting dalam penumbuhan karakter bangsa. Pada pertunjukan Reog, para pemain dituntut untuk tekun berlatih, bergotong-royong, kebersamaan, menghargai orang lain, dan selalu menjunjung tinggi nilai budaya. Fungsi ekspresi menunjukkan bahwa kesenian reog memiliki peran sebagai pelestari budaya, sedangkan fungsi instrumental menunjukkan bahwa reog dapat dijadikan sebagai media penyampaian pesan yang terkait dengan nilai-nilai kebajikan dan pesan moral yang baik. Dengan demikian kesenian ini dapat memberikan konstribusi terhadap penegakan nilai-nilai masyarakat dalam berbangsa dan menumbuhkan jiwa patriotisme, seperti watak tokoh warok.
Menurut Purwowijoyo (1985) nilai-nilai dalam kesenian Reog sesuai dengan nila Pancasila,yakni:
1.  Kepercayaan sesuai dengan nilai ketuhanan
2.  Nilai kepribadian sesuai dengan nilai kemanusiaan
3.  Nilai hiburan dan pertunjukan sesuai dengan nilai persatuan
4.  Nilai sosial atau kerukunan sesuai dengan nilai kerakyatan
5.  Nilai kesejarahan dan kelestarian sesuai dengan nilai keadilan.
Bila dikaitkan dengan nilai-nilai kesenian reog maka pemainnya membawa unsur kebaikan esensial. Refleksi tersebut adalah :
1.  Refleksi dari nilai kepahlawanan, sebagai upaya membangun bangsa. Dapat dilihat dari pembawaan peran warok.
2.  Refleksi dari nilai-nilai kewiraan dalam upaya membangun karakter bangsa, yaitu sifat pemberani dan pantang menyerah.
3.  Refleksi dari nila-nilai superioritas, dalam upaya untuk membangun karakter bangsa, yang meliputi sifat lebih ksatria, rela berkorban, dan pantang menyerah.
4.  Refleksi dari nilai-nilai kepribadian, sebagai upaya membangun karakter bangsa, yang meliputi sifat anti kekerasan dan tangguh
5.  Refleksi dari nilai-nilai moral dalam upaya membangun karakter bangsa yang berupa sifat keteladanan.

E.  PENTINGNYA KESENIAN BAGI SUATU BANGSA
Industri pariwisata dewasa ini dihadapkan pada persaingan yang katat. Oleh karena itu tiap negara handaknya melestarikan setiap kesenian yang ada di daerahnya untuk memikat wisatawan datang.
Kita mengetahui dan menghayatinya, bila seseorang wisatawan mengunjungi suatu negara, ia ingin mengetahui dan melihat sesuatu yang dianggap aneh dan sebagainya, seperti halnya seni budaya bangsanya.
Oleh karena itu, objek dan atraksi wisata yang akan disuguhkan kepada wisatawan adalah  objek budaya yang bersifat tradisional. Demikian pulalah halnya Indonesia. Pariwisata yang kita kembangkan sekarang ini adalah pariwisata budaya, dengan tujuan untuk melestarikan kebudayaan dan kepribadian bangsa. Dasar pemikirannya adalah bila suatu negara sama-sama memiliki keindahan alam yang sama, fasilitas yang sama, pantai yang bersih, udara yang segar, tempat-tempat rekreasi yang lengkap, maka Indonesia haruslah menciptakan suatu nilai plus bagi wisatawan yang hendak berkunjung. Nilai plus itu tidak lain yaitu nilai budaya tradisional. 

F.  USAHA-USAHA PELESTARIAN REOG PONOROGO
Pada masa lalu Reog tidak lepas dari tradisi gemblakan dan minuman keras. Gemblak adalah laki-laki muda dan tampan yang dipelihara warok untuk “kesenangan”,sebagai pengganti wanita. Bagi warok “berdekatan” dengan wanita dapat melunturkan kesaktiannya. Tradisi gemblak untuk saat ini sudah tidak ada. Tapi tradisi minuman keras masih sulit dihilangkan. Untuk melestarikan dan mengembangkan Reog, serta menghilangkan unsur-unsur negatif ada beberapa hal yang dilakukan pemerintah daerah Ponorogo.
Diantaranya,mengadakan festival Reog. Sehingga disana ada 2 istilah pertunjukan reog yakni pertunjukan Reog festival dan pertunjukan reog obyogan (tontonan umum). Reog festival penuh dengan aturan, urutan adegan, kostum dan gendingnya sudah ditentukan. Sedangkan reog obyog lebih bebas, adegan tidak harus lengkap dan urut, kostum dang ending juga lebih bebas. Reog Ponorogo sampai saat ini masih lestari dengan segala perkembangan.

PENUTUP
Reog merupakan kesenian asli dari Indonesia yang berasal dari Ponorogo yang patut untuk dilestarikan. Ada 2 versi yang menceritakan asl-usul Reog Ponorogo yakni versi bantarangin dan versi Ki Demang Kutu.
Di dalam kesenian ini banyak mengandung nilai-nilai dalam pembentukan karakter bangsa. Pembentukan karakter bangsa itu dapat dilihat melalui pembawaan para pemain kesenian tersebut. Maka dari itu,pelestarian kesenian reog sangatlah penting.

DAFTAR PUSTAKA

Herry Lisbijanto, 2013. Reog Ponorogo, Yogyakarta: Graha Ilmu

Yoeti,A.O. 1985. Melestarikan Seni Budaya Tradisional yang Nyaris Punah, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan

Purwowijoyo. 1985. Babad Ponorogo, Dinas Pariwisata dan Seni Budaya Pemerintah Kabupaten Ponorogo Propinsi Jawa Timur

Fauzannafi,Z.M. 2005. Reog Ponorogo : Menari diantara dominasi dan keragaman. Yogyakarta: Kepel Pres

Rahimsyah A.R. 1990. Asal Usul Reog Ponorogo, Yogyakarta: Karya anda,anggota IKAPI

Komentar